You are currently viewing Menulis Aksara di atas Lontar: Usaha Mengawetkan Ilmu Tempo Doleloe

Menulis Aksara di atas Lontar: Usaha Mengawetkan Ilmu Tempo Doleloe

Lontar adalah daun tanaman jenis palem, yang memiliki daun keras dan jika kering akan berwarna putih kekuningan.  Varietas tanaman lontar yang baik digunakan daunnya adalah jenis lontar taluh, daunnya lebar, warnanya putih kekuningan, serta empuk saat ditulisi.  Daun lontar dijkeringkan dengan menjemur kemudian dipotong dengan ukuran tertentu, segi empat panjang: 3,5X35 cm untuk  lontar usada; 4X48 cm untuk lontar Bharatayuda; 5X55 cm untuk lontar Ramayana.   Selanjutnya daun lontar yang telah dipotong tersebut  direbus dengan air rempah untuk pengawetan dan pewarnaan.  Rempah-rempah yang digunakan adalah daun liligundi, kuit kayu pule, kunyit warangan (untuk warna kuning), dan gambir (untuk warna gading), kemudian daun lontar dikeringkan.  Daun lontar dilubangi di sebelah kiri dan kanan (3 cm di bagian tepinya) dan dilubangi di bagian tengahnya untuk dimasukkan benang sebagai penjilid daun lontar, saat lontar dibuka / dibaca, agar lembaran lontar tidak berantakan.  Lembaran lontar kemudian dipres/ dijepit dengan dua lembar papan kayu selama 6 bulan- 12 bulan agar rata.  Selanjutnya lembaran lontar siap untuk ditulisi dengan alat tulis pengutik (pisau kecil tajam ujungnya).  Tiap halaman lontar berisi 4 baris kalimat.  Selanjutnya daun lontar diolesi dengan serbuk arang, untuk memberikan warna hitam pada torehan tulisan di daun.

Usaha manusia dari jaman dahulu untuk menyelamatkan ilmu pengetahuan dilakukan dengan menulis.  Saat itu belum ditemukan buku dan alat tulis, tapi usaha manusia menyelamatkan ilmu pengetahuan dilakukan dengan menulis di batu, perunggu (dalam bentuk prasasti), lontar dalam bentuk buku kono.  Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan kebijaksanaan yang memuat berbagai informasi yang dirasa berguna di masa depan untuk generasi selanjutnya, sehingga bisa digunakan/ dikembangkan untuk tujuan kesejahteraan.

Kemajuan teknologi penyebaran dan pengawetan ilmu melalui buku/ kertas, mikrofilm dan digital, sangatlah penting untuk menyelamatkan informasi yang bermanfaat untuk generasi selanjutnya.  Generasi penulis (penulis prasasti, lontar) telah berusaha gigih menyelamatkan ilmunya.  Demikian juga di jaman buku dan  digital sekarang, telah lahir lebih banyak lagi generasi penulis untuk dibaca karyanya dan dikembangkan menjadi ilmu-ilmu baru.  Selanjutnya di jaman digital ini juga berkembang generasi penerus dan penyebar informasi melalui gambar (foto dan video) untuk disebarkan pengetahuan dan pengalamannya menjadi ilmu-ilmu yang siap dipraktikkan, dengan cara belajar melalui melihat gambar dan video.  Ilmu yang diawetkan, dilestarikan akan dibaca/ dipelajari oleh generasi selanjutnya dan dikembangkan sesuai kebutuhan generasi baru di jamannya.  Generasi pembaca lahir dari generasi yang menulis.  Semakin banyak tulisan dan hasil karya yang bermutu, maka ilmu yang diawetkan dalam bentuk buku/ lontar tersebut akan semakin berkembang dan bermanfaat.  Kegigihan dan usaha keras generasi tempo doeloe menyelamatkan ilmu pengetahuan patut dicontoh oleh generasi sekarang, yang hidupnya serba mudah dalam belajar dan menyerap informasi dari berbagai arah, melintasi jaman, bahkan bisa belajar tanpa kertas (paperless).  Syarat utama belajar adalah membaca dan maembaca yang tertulis di atas kertas/ lontar, atau bisa juga tanpa kertas.

Tinggalkan Balasan